Sabtu, 16 Februari 2008


Siapa Mau Hidup Mulia?

Rasanya hampir nggak ada yang nggak mau hidup mulia di dunia ini. Semua orang pengen hidup tidak saja mulia, tapi sekaligus mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan, ketenteraman, kedamaian, kenyamanan, kebahagiaan, dan seabrek rasa suka yang ingin kita raih. Betul? Itu sebabnya, banyak kawan kita yang berlomba untuk meraih semua itu. Meraih harapan yang menjadi impiannya selama ini. Mereka yang punya semangat tinggi, halangan dan rintangan akan dianggapnya sebagai tantangan untuk maju. Nggak berusaha, ya nggak maju. Maka, kamu bisa saksikan mereka yang rela menguras seluruh tenaganya untuk bisa menjadi yang terbaik dalam kehidupannya. Mereka sudi memeras keringatnya untuk ditukar dengan mimpi yang selama ini mengganggu tidurnya. Untuk membeli mimpi-mimpi itu, banyak kawan kita yang berjuang keras. Andai jumlah jam dalam sehari lebih dari 24 jam pun niscaya akan diraihnya juga untuk mewujudkan impiannya itu. Impian untuk maju, impian untuk menjadi makmur, dan impian untuk mulia dalam hidup adalah energi yang sangat besar sebagai modal berjuang. Sobat muda muslim, manusia itu makhluk yang penuh dinamika. Sejarah manusia sejak dulu sampe sekarang menunjukkan bahwa 'spesies' ini mampu bertahan di dunia ini. Manusialah yang paling canggih dalam mempertahankan hidup. Sejak jaman pra sejarah sampe sekarang, manusia telah 'menciptakan' beragam alat untuk bertahan hidup. Di kala kedinginan, manusia berhasil menciptakan selimut, perkembangannya terus ke arah kemajuan. Teknologi untuk membuatnya makin canggih. Saat kepanasan, manusia juga mampu mengeksplorasi kerja otaknya yang telah diberikan Allah ini dengan semaksimal mungkin, maka berbagai penemuan berhasil menyulap seng, tanah, asbes, campuran semen-batu-pasir menjadi atap pelindung kita dari panasnya sinar matahari. Begitu pula udah kita saksikan sendiri, manusia berhasil membuat perjalanan jadi lebih cepat. Sejak ditemukannya roda, manusia sukses memodifikasi beragam kendaraan; mobil, kereta, sepeda, dan sepeda motor. Semua memperlancar perjalanan darat kita. Pengen mengangkasa? Nggak susah. Manusia udah berhasil membangun industri montor mabur (pesawat terbang) yang mampu dipacu hingga minimal 650 km/jam. Jarak yang jauh, bukan halangan lagi untuk ditempuh. Membelah lautan? Tak terlalu sulit. Manusia, atas ijin Alah berhasil memproduksi kapal laut dari yang sederhana sampe yang berteknologi canggih. Bagaimana dengan angkasa luar? Jangan kaget dan bingung, sejak Soviet dan Amrik berlomba pergi ke bulan, teknologi itu kian berkembang pesat. Manusia dengan bebas bisa melihat 'dunia lain' selain bumi. Subhanallah. Perlombaan manusia untuk sejahtera, makmur, dan mulia sebagai penghuni paling berhasil di dunia ini terus berlanjut. Bahkan dengan dalih mengamankan diri, kelompoknya, dan negaranya mereka belomba menciptakan senjata. Ini sudah berlangsung sejak 'dark age' sampe sekarang. Beragam senjata berhasil diciptakan dengan perkembangan daya bunuh yang makin dahsyat. Panah yang di jaman baheula adalah senjata paling oke, sekarang sudah digantikan dengan rudal berdaya jelajah tinggi. Bahkan ada yang sanggup menempuh perjalan dari darat ke darat antar benua. Belum lagi senjata kimia dan biologi. Subhanallah. Sobat muda muslim, semua itu dilakukan manusia untuk mempertahankan hidupnya supaya terus berlangsung di dunia ini. Dan tentunya, punya tujuan untuk mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan, kenyamanan, kebahagiaan sebagai ukuran kemuliaan dalam hidup bisa diraih. Beralasan bukan? Lihatlah Amrik, atas nama operasi pembebasan rakyat Irak dari kejahatan rejim Saddam Hussein, mereka mancaplok Irak, tanah kaum muslimin. Bukan hanya menyingkirkan Saddam, tapi tujuan mulia mereka adalah untuk mengeruk semua potensi yang dimiliki negeri Irak, terutama minyak. Untuk apalagi kalo bukan untuk menumpuk harta kekayaan sebagai cadangan kebutuhan negeri Paman Sam di masa depan. Maklum, dalam 10 tahun atau 20 tahun ke depan, Amrik bakalan kesulitan dalam masalah energi. Jadi, minyaklah satu-satunya yuang bisa memenuhi kebutuhan hidup rakyat Amrik. Sekali lagi, kita sedang bicara tentang kemakmuran, kesejahteraan, dan kemuliaan hidup. Apakah cara mendapatkannya terpuji atau tercela, nggak jadi soal. Karena bergantung ideologi masing-masing. Gaswat! Sementara kita, kaum muslimin, boro-boro hidup mulia, sekadar untuk sejahtera, makmur, dan bahagia dalam hidup saja adalah sebuah impian yang sampe sekarang belum kita raih. Masih banyak kaum muslimin yang menderita di berbagai belahan bumi ini. Ironisnya lagi, kalo pun ada segelintir negeri kaya raya seperti Saudi Arabia, Kuwait, dan Brunei Darussalam, tapi tetep tidak menolong kehidupan kaum muslimin di seluruh dunia. Menyedihkan. Bahkan lebih perih lagi, para konglomerat dan pejabat negeri-negeri kaum muslimin yang kaya itu mengalirkan hampir seluruh uangnya ke luar negeri. Ada yang dipakai untuk investasi pribadi, juga tak sedikit yang dihibahkan sebagai imbalan atas keamanan yang diberikan negara-negara tersebut di wilayahnya. Duh, nangis deh kita. Gimana nggak, Amrik adalah negara yang paling banyak mendapatkan harta kaum muslimin. Dengan 'pemberian' cuma-cuma juga hasil menjarah. Timbul pertanyaan, mengapa Amrik dan Eropa bisa maju? Kenapa negeri-negeri Islam jeblok? Mengapa juga kita nggak bersatu-padu? Katanya kita bersaudara, tapi mengapa sebagian dari kita justru menjadi penjagal bagi sebagian yang lain? Dengan cucuran air mata kita saksikan di televisi saat serdadu-serdadu Amrik menggempur Irak, tapi yang dilakukan Arab Saudi, Kuwait, dan Turki justru menyediakan tempat berlabuh mesin-mesin perang Amrik. Padahal mereka pasti tahu, bahwa mesin-mesin perang itu akan dipakai untuk menggedor saudaranya sendiri, kaum muslimin di Irak. Ya, Allah apa yang terjadi dengan kami? Di mana pertolongan-Mu itu? Mana kemuliaan bagi kami? Sobat muda muslim, di negeri ini kita juga kehilangan harga diri dan tentunya kemuliaan. Sudahlah miskin, menderita, tidak aman, eh, maksiat adalah raja saat ini. Banyak orang sudah kehilangan harga dirinya sebagai seorang muslim. Gimana nggak, kemaksiatan berbalut seni dibela mati-matian dengan atas nama HAM. Menyedihkan. Inilah masalah kita sobat. Ada yang masih ingin mulia? Terhina itu pedih, Jenderal! Dijajah, disingkirkan, dipecundangi, adalah sebuah kehinaan. Apalagi jika itu disertai dengan segala macam penderitaan akibat tekanan orang yang menguasai kita. Terhina banget deh rasanya. Real Madrid sebagai klub Spanyol langganan juara Liga Champions harus mengakui keunggulan Juventus setelah ditekuk 3-1 di duel kedua semi final ajang bergengsi insan bola Eropa itu. Kita melihat di layar televisi bagaimana Ronaldo tertunduk lesu, Raul Gonzales 'ngahuleng', Zinedine Zidane pasrah, begitu pula kubu Madrid lainnya bermuram durja. Nggak percaya kalo mereka udah tersingkir dan tentunya harus mengubur mimpi mendapatkan 'kemuliaan' sebagai raja diraja sepakbola Eropa. Terhina itu pedih, Jenderal! Ya, cukup beralasan. Nggak ada orang yang nggak terhina jika sebuah kemuliaan nggak bisa diraih. Kita, kaum muslimin, juga sedang terhina total sebagai sebuah masyarakat. Meski kita banyak jumlahnya, tapi kita bagai buih di lautan. Terombang-ambing ganasnya gelombang kehidupan. Hingga tercerai-berai kekuatan kita. Meski menjadi umat paling banyak di dunia, tapi kekuatan kita lemah. Kenapa? Karena kita terkotak-kotak di berbagai negeri. Jadi inget sabda Rasulullah saw.: “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”. Salah seorang shahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’”. Seorang shahabat Rasulullah bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?” Dijawab oleh Rasulullah saw.: “Cinta kepada dunia dan takut (benci) kepada mati”. (At Tarikh Al Kabir, Imam Bukhori; Tartib Musnad Imam Ahmad XXIV/31-32; “Sunan Abu Daud”, hadis No. 4279). Sobat muda muslim, menyedihkan banget ya? Di negeri kita aja, yang katanya udah merdeka, dan selalu memperingati tonggak kebangkitan setiap tanggal 20 Mei ini, nyatanya masih menderita dan terjajah. Lalu kebangkitan macam apa yang bisa dibanggakan? Apakah ini kebangkitan yang gagal total? Boleh jadi benar, sobat. Meski tampak maju, tapi kedodoran! Negeri dengan jumlah kaum muslimin terbesar di dunia ini masih saja terhina total. Tekanan IMF yang bertubi-tubi udah menggerus kehidupan ekenomi kita. Tekanan politik dari luar negeri sangat kuat, hingga pemerintah negeri ini pontang-panting memadamkan kobaran api pemberontakan di berbagai wilayah. Terutama di Aceh dan Papua. Kita yakin kok, kalo konflik itu diciptakan dan dikipasin supaya terus membara oleh para penjajah yang berlindung di balik kedok perjuangan sebagian rakyat negeri ini. Sangat boleh jadi Amrik bersembunyi di tubuh GAM. Itu di bidang politik lho. Masalah sosial juga makin rusak. Kita sudah kehilangan kemuliaan sebagai seorang muslim. Berbagai kekerasan dan seksualitas lahir dari rahim televisi. Bukan mustahil kalo itu langsung dicontek abis oleh adik-adik, teman-teman remaja, dan juga ortu kita. Pikiran mereka terbelenggu oleh tayangan yang merusak, lalu memudarkan kemuliaan yang pernah diraih di masa lalu. Menyedihkan memang. Ya, terhina itu pedih, Jenderal! Kemuliaan tidak 'ujug-ujug' tiba Yup, kemuliaan nggak bisa ujug-ujug alias tiba-tiba datang menghampiri kita. Kalo kita sendiri tidak berusaha untuk mendapatkannya. Kalo kita tidak bangkit, ya nggak dapet. Pungguk merindukan bulan, namanya. Betul, harus ada keterlibatan dari kita untuk bisa bangkit. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [TQS ar-Ra’d [13]: 11] Bangkit itu perlu, bahkan wajib sobat. Apalagi bila kita bicara tentang masa depan Islam. Ya, Islam. Agama yang selama ini kita anut, belum kembali ke puncak kejayaan setelah mengalami kemunduran. Dan yang berperan selama ini—disaat maju dan mundur—adalah kita, kaum muslimin. Jadi, mari kita gapai kemuliaan itu. Caranya? Pertama, dakwah. Yup, tugas ini kudu kita emban untuk memahamkan umat yang belum ngeh tentang Islam. Kita harus membela Islam. Kedua, kamu kudu memahami Islam sebagai ideologi. Dengan begitu, kita bisa menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Islam bukan hanya mengatur urusan sholat, zakat, puasa aja, tapi sekaligus mengurusi masalah ekonomi, politik, pendidikan, hukum, peradilan, pemerintahan, dsb. Ketiga, harus berani melakukan shiraul fikriy (pertarungan pemikiran) dengan berbagai ide sesat yang ada di masyarakat. Misalnya, sampaikan bahwa demokrasi sesat, nasionalisme itu tercela, sekularisme adalah bagian dari kekufuran dan sebagainya. Keempat, kita harus bisa menunjukkan kelemahan dan kepalsuan sistem kufur yang tengah mengatur kehidupan masyarakat kita saat ini. Supaya mereka juga ngeh, bahwa selama ini ternyata hidup dalam lingkungan yang tidak islami. Itu sebabnya kita juga mengajak kaum muslimin untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam. Pengen hidup mulia? Mari kita contoh Rasulullah dan para sahabat yang telah memberikan kemuliaan saat menerapkan Islam sebagai ideologi negara, di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Pemuda Islam, pantang menyerah dong. Kaji terus Islam, dan rapatkan barisan. Ayo bangkit, dan tetep semangat! ?

Bersatulah Wahai Umat Muhammad...!!!

Kita-manusia- telah tercipta oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT sebagai makhluk sosial yang senantiasa memerlukan orang lain, untuk saling bantu, saling melengkapi dari segala kekurangan yang masing-masing dimiliki oleh kita. Manusia semenjak nenek moyang kita Adam as dan Hawa turun di bumi ini selalu melakukan aktifitas bersama-sama. Sangat kecil kemungkinannya seorang manusia akan merasa bahagia dan tersalurkan kebutuhannya tanpa adanya manusia yang lainnya. Manusia telah terbiasa bersuku-suku berbangsa-bangsa ini kemudian mengangkat satu pemimpin untuk dapat mengatur hubungan kehidupan antara mereka, hingga terciptalah kehidupan yang harmonis yang indah yang setiap individu merasa dibutuhkan dan membutuhkan orang lain. Berkenaan dengan ini Islam datang menata, dan memberikan system masyarakat yang ada menjadi sebuah bentuk masyarakat penuh rasa kekeluargaan yang tak ada perbedaan disana antara bangsa, suku, bahasa dan perbedaan-perbedaan lainnya yang kadang dari sanalah benih perpecahan masyarakat tiba karena kekurangan dan kelebihan yang masing-masing dimiliki. Adalah Rasulullah SAW datang memberikan kabar gembira ini dimulai dari tanah arab hingga tersebar di seluruh penjuru dunia, yang hingga saat ini umatnya telah melebihi dari separuh bumi Allah ini. Diaman dia mengabarkan bahwa Islam tidak membedakan antara si A dengan si B, antara si kulit putih dengan si kulit hitam antara penududuk bangsa A dengan B, semua sama rata, hanya ketakwaan yang membedakannya di mata Tuhan. Kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan sapaan yang indah kepada manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan panggilan : Wahai saudaraku Muslim ! tidak perduli dia dari bangsa mana , golongan orang arab atau dari luar arab, semua sama : Muslim! Bersabda Nabi kita Muhammad SAW: Tidak ada yang dilebihkan dari seorang arab ataupun luar arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan taqwa (HR alBazary, hadits rijalnya shahih) Maka tak ada panggilan di dalam alquran dengan lafaz : wahai orang arab, wahai ahli Quraisy, wahai bani A, bani B, karena inilah agama untuk seluruh manusia hingga akhir zaman sebagaimana Rasulullah SAW adalah penutup rentetan seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah di muka bumi ini, dan sebagai penyempurna segala ajaran Allah sebagai petunjuk jalan terang bagi manusia. Kemudian Islam mengajarkan manusia agar bersatu dan menjadikan wala'nya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, tanpa adanya taasub berlebih kepada masing-masing golongannya. Berfiirman Allah : Artinya : "Sesungguhnya wali kamu sekalian adalah Allah rasulnya dan orang-orang yang beriman yaitu mereka yang mengerjakan shalat dan membayar zakat sedang mereka sekalian rukuk. Dan barang siapa yang berwala' kepada Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman maka sungguh golongan Allah ini adalah mereka yang akan menang". (Surat Almaidah 55-56) Maka ketika Allah menyatukan umat ini dalam satu wadah Islam , Rasulullah memberi kewajiban kepada masing-masing umatnya agar saaling membantu mempererat tali ukhuwah ini agar terjaga tanpa adanya perceraiberaian disana, sebagai contoh dari sabdanya : "Tolonglah saudaramu yang dhalim ataupun yang didhalimi! Berkata sahabat : wahai Rasulullah kami bisa memberi pertolongan kepada orang yang didhalimi (ditindas) tapi bagaimana menolong orang yang dhalim ? Rasul menjawab : mencegah dia dari perbuatan dhalim adalah pertolongan untuknya ". (HR Bukhari dan Turmudzi) Maha benar perkataanmu wahai Khairul anam, sangat indah katamu hingga begitu mudah dipahami kita semua. Maka demikianlah bahwa asas kedatangan Islam di bumi ini adalah persatuan, adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam, maka tak pelak bahwa segala ajarannya juga sangat menganjurkan akan persatuan manusia. Sebagai contoh awal adalah adanya bulan suci Ramadhan ini. Sebagai salah satu ajaran inti umat Islam . Semua manusia bisa menyaksikan dimana berjuta manusia diseluruh pelosok dunia entah si kaya atau si miskin entah presiden ataupun rakyat jelata, semua serentak berpuasa bersama , dimulai dari tanggal satu hingga akhir ramadhan nanti. Tak ada yang menggerakkan mereka semua dari kalangan presiden , atau sekumpulan dari presiden terbaik di dunia, tak ada yang memaksa mereka, kecuali sebuah ketaatan mereka atas sang Maha Presiden disana yaitu Allah ! Sang Raja Diraja yang menguasai segala alam ini, yang mampu memberikan kebahagiaan hakiki kepada siapa yang taat, juga yang sanggup meluluh lantakkan segala cipta-Nya dengan izin-Nya. Maka dalam puasa tak boleh seseorang merahasiakan jika dia melihat hilal (bulan sabit) tanda kedatangan bulan ramadhan atau berakhirnya,tapi dia dituntut untuk memberi tahu teman-teman dan seluruh manusia akan kedatangan bulan ini, sebagai wujud amal jama'i dia, sebagai didikan Islam untuk saling hidup berjamaah. subhanallah Contoh kedua adalah dalam shalat jamaah, shalat yang menjadi tiang agama Islam ini dianjurkan agar terlaksana dengan berjamah, bershaf lurus di satu tempat menghadap satu arah yang tak dibedakan disana antara yang berpangkat ataupun yang tidak berpangkat yang banyak duit atau yang banyak hutang. Semua sama… berniat ikhlas demi ketaatan perintah Allah. Bahkan jika ada seseorang yang shalat sendirian dibelakang shaf jamaah diwajibkan baginya untuk mengulang shalatnya sebagai mana hadits yang diriwayatkan abu Dawud dan Turmudzi(hadist hasan). Maka tak heran jika diriwayatkan ada seorang Yahudi di mesir yang merasa iri dengan umat Islam ketika dia mengetahui adanya syariat shalat dalam agama islam ini, yang teratur, yang mengajarkan persatuan ummat, persama rataan umat, dalam satu panji ketaatan pada Tuhan, hingga akhirnya membuat hatinya lembut dan masuk agama ini. Allahu Akbar Demikian juga disyariatkannya zakat di dalam Islam, adalah salah satu wujud kesatuan hati umat. Satu hati antara mereka yang mampu dan mereka kaum dhuafa (lemah). Dimana zakat menyadarkan mereka yang berlebih harta bahwa semua itu hanyalah sebuah barang titipan Ilahi yang akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti dimana dia pergunakan harta itu, maka akan terbentuklah jiwa si kaya yang tawadhu dan menyayangi si miskin, kemudian bagi yang lemah juga akan merasa dia tidak sendiri dalam mengarungi kekurangannya di dunia ini, hingga timbul padanya rasa hormat dan terlahirlah kasih suci darinya dan timbullah keharmonisan dalam bermasyarakat. Demikianlah sedikit contoh akan inti ajaran agama Islam dalam mempersatukan ummatnya. Maka di bulan yang suci ini marilah kita kembali kaji inti dan kita renungi ajaran kita ajaran Islam yan sempurna ini, bahwa di segala ajarannya menganjurkan kita pemeluknya agar kita saling bersatu antara kita. Islam tak pernah mengajarkan adanya perpecahan, pencacian, bahkan naudzubillah peperangan sesama.. Ingatlah bahwa kita adalah satu tubuh satu jasad yang bila diantara kita sakit maka seluruh kita akan sakit sebagaimana sabda Rasul SAW dalam hadits mutafaq alaih (lihat Lu'lu wal Marjan hal :6171) Hingga akhirnya dapat kita simpulkan bahwa tak ada artinya hidup ini tanpa adanya berjamaah dalam artian berkumpul, bersatu hati dalam satu naungan panji yaitu Islam, tanpa taasub berlebihan dengan negara suku bangsa dsbnya. Kemudian setelah itu kewajiban kita memelihara persatuan ini dengan saling menghormati antara umat, tidak saling mencaci ataupun menjatuhkan antar sesama. Perbedaan dan kekurangan adalah fitrah manusia yang kita telah tercipta sebagai makhuk yang salah dan lupa, tak ada manusia yang sempurna dan lepas dari keduanya kecuali Rasulullah yang ma'sum. Kemudian kita dituntut untuk berusaha satu hati dengan sesama kita mencintai mereka sesuci-suci cinta kita, sebagaimana sabda nabi SAW: Artinya : Tidak sempurna iman kamu sekalian hingga mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri (HR Mutafaq 'Alaih) Banyaknya uji coba yang melanda umat Islam di penjuru dunia hingga di bumi kita Indonesia sendiri selama ini tak lebih dan tak kurang adalah suatu uji coba dari Allah SWT untuk umat-Nya, seberapakah cinta mereka kepada sesama Islam, akankah cinta mereka akan goyah dengan jargon-jargon para kafirin dan tekanan-tekanan mereka , juga akankah cinta mereka kepada kafirin melebihi cinta mereka kepada sesama Muslim, hingga hilanglah wala' mereka, sebagaimana firman Allah diatas tadi. Bahkan semua ini jika kita mau membuka mata lebar-lebar hanyalah usaha mereka untuk mengegolkan pendapat keji mereka sendiri, dan ingin akhirnya akan memberangus umat Islam semua. Telah terbukti tak ada untungnya bersatu dengan para kafirin. Tak ada untungnya memberikan sokongan kepada mereka, karena dari merekalah segala kerusakan dunia ini lahir, kemudian telah nyata bahwa merekalah musuh Allah. Akankah kita membela musuh Allah sedang Allah sendiri ingin mengadzab mereka? Demi Allah wahai saudaraku ! Seandainya ada seorang muslim dosanya memenuhi antara bumi dan langit sedang dia masih mengakui laa ilaaha illah, dia masih lebih baik daripada seorang kafir yang bahkan sebagai pemimpin satu dunia sekaligus, karena sang muslim masih mengakui akan kebenaran Ilahy, sedang sang kafir tidak mengakuinya yang artinya melawan perintah Ilahy sang Penciptanya. Sebagai lazimnya manusia, kita adalah ahli maksiat semua, yang sudah lazim kita berbuat dosa dan salah maka tak pantas bagi kita saling menjelekkan sesama kita apalagi malah memerangi sesama kita, yang akan membuat tepuk tangan keras para musuh Allah itu. Ingatlah kita semua punya nama satu : Muslim!. Yang tak boleh adanya cacian, pembunuhan antara kita, kecuali dengan hak dan wajib bagi kita semua menjaga keindahan ukhuwah ini bersama. Akhirnya segala doa marilah kita panjatkan kepada Allah untuk memperlembut hati-hati kita semua agar wala' kita hanya kepada Dia, Rasul-Nya dan para mukminin di muka bumi ini. Wallahu a'lam [oleh: Rahmanto]

Dewasa Siapa Takut

Biasanya para generasi muda yang udah baligh menganggap dirinya sudah dewasa, berarti boleh jalan sama teman sampai larut malam, atau pergi camping sama temen tanpa ada ortu yang ngawasi, pergi ke pesta ultah pakai make up dan pacaran. Pokoknya sudah serba bebas dan boleh. Tentunya sudah bisa mengatur diri sendiri tanpa perlu dipantau oleh Ortu. Tapi apakah kedewasaan seseorang bisa dilihat dari segi penampilan fisik saja, sebagaimana layaknya orang tua, seperti pake pakaian yang feminin dengan dandanan lengkap seperti ibu kita ataukah ada penjelasan lain yang lebih tepat untuk menggambarkan kedewasaan seseorang? APA ITU DEWASA??? Kalau kita perhatikan kebiasaan dan penilaian masyarakat kita terhadap masalah 'dewasa' ini ternyata kita akan sampai pada dua patokan penilaian seseorang itu dikatakan telah dewasa. Bisa disimpulkan bahwa orang-orang itu menganggap kalau dewasa itu bisa dilihat dari dua sisi yaitu dari sikapnya atau fisiknya dan penilaian yang kedua adalah dari segi sikapnya. DEWASA DALAM KACAMATA ISLAM Sebagai seorang muslim tentu kita tidak hanya mengaku Allah itu pencipta kita tapi juga sebagai pengatur kita yang tahu betul apa dan bagaimana seluk beluk kita, apa yang baik buat kita, apa yang membahayakan kita dan apa aturan yang paling cocok buat kita.apa yang baik buat kita, apa yang membahayakan kita dan aturan yang paling cocok buat kita. Aturan Allah yang diturunkan kepada kita (syariat Islam) adalah aturan yang kita yakin betul, terbaik bagi kita yang mana kalau kita hidup sesuai dengan tujuan kita diciptakan didunia ini. Dewasa dalam Islam adalah suatu masa ketika kita harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kita lakukan sendiri. Jadi aktivitas kita pacaran, ngaji, belajar atau yang lain sudah harus kita pertanggungjawabkan sendiri, tidak bisa kita nisbahkan ke orang lain. Nah masalahnya sekarang, mulai kapan kita sudah harus bertanggungjawab terhadap segala macam aktivitas kita? Apa sejak kecil, atau sejak sekolah, atau sejak kita tidak tinggal sama ortu lagi? Di dalam Islam seseorang sudah dikatakan harus bertanggungjawab terhadap segala apa yang dilakukannya dalam arti bahwa dia sudah harus dihukum kalau dia telah berbuat salah dan akan mendapatkan imbalan pahala kalau dia telah berbuat baik adalah ketika seseorang tadi itu telah sampai pada kondisi aqil baligh. Aqil artinya dia sudah memiliki kemampuan untuk mengakal (berfikir) dengan sempurna. Dia sudah bisa melakukan proses berfikir dalam segala aktivitas atau perbuatannya. Bisa berfikir untuk menentukan apakah sesuatu itu salah atau bener, sesuatu itu baik atau buruk. Waktu kita masih kecil dulu (ketika masih belum aqil baligh) ketika diberi kue sama mainan, kita cuma bisa merasakan kalau ada dua benda dan bisa membedakan ini menyakitkan atau tidak, mengenyangkan atau tidak, menyenangkan atau tidak kalau nantinya dijelaskan bahwa kue itu untuk dimakan supaya kenyang dan mainan itu untuk bermain sehingga bisa nyenangin hati kemudian keterangan itu diulang-ulang sama mama kita sampe kita hafal dan bisa meniru/menyebutkan namanya berulang-ulang sesuai apa yang kita dengar, maka ketika kita ditanya mana yang mainan dan mana yang kue, kitapun bisa menunjukkannya hanya karena meniru-niru bahwa ini adalah kue dan ini adalah boneka, bukannya karena kita sudah bisa berfikir. Sedangkan baliq artinya ketika seseorang itu udah sampai pada salah satu dari kondisi dibawah ini (menurut Imam Syafi'i ): 1. Bagi anak laki-laki: - Pernah mimpi basah; mimpi disertai keluarnya air mani (bukannya mimpi sambil ngiler hebat atau ngompol lho!) - Sudah berumur 15 tahun 2. Bagi anak perempuan: - Sudah keluar haid - Sudah berumur 9 tahun, kondisi balig ini sendiri seringkali memang muncul bersamaan dengan munculnya tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder, seperti membesarnya suara pada anak laki-laki, berubahnya bentuk anatomis tubuh anak wanita menjadi feminin dan cowok menjadi maskulin itulah mungkin mengapa masyarakat kita cenderung mengasumsikan kedewasaan seseorang dari penampilan fisiknya. Maka ketika seseorang itu udah sampai pada kondisi aqil baliq inilah, seseorang tadi sudah menjadi muallaf (orang yang terbebani hukum). kalo dia bener dan berbuat baik akan mendapatkan imbalan pula, inilah yang dinamakan mukallaf (orang yang terbebani hukum). sabda Rasulullah SAW. "Diangkat pena atas umutku (artinya tidak terbebani hukum, red) 3 orang; orang gila sampai dia sembuh, anak kecil sampai dia baliq, orang tidur sampai dia bangun." (HR.Abu Dawud melalui Ali bin Abi Thalib ra) "Yang terlepas dari hukum ada 3 macam (1) kanak-kanak hingga ia dewasa, (2) orang tidur hingga ia berjalan,(3) orang gila hingga ia sembuh." (HR. Abu Dawud & Ibnu majah) Dalam Islam konsekuensi seseorang yang udah aqil balig ini adalah wajib terikat ama hukum-hukum syara' (hukum-hukum Islam yang diturunkan Allah SWT dan yang dibawa oleh Rasullah Saw) artinya gimana sih? apa terikat dengan tali yang tulisannya 'hukum syara', atau bagaimana? Terikat sama hukum syara' itu artinya kalo kita tahu sesuatu perbuatan itu berhukum wajib maka tidak ada pilihan lain harus kita laksanakan, kalau tidak maka dosalah kita, ujung -ujungnya tentu aja neraka jahanam; trus kalo sesuatu perbuatan tadi berhukum haram maka wajib kita tinggalkan, tanpa banyak alasan dan komentar, jika tetap melakukan maka siksa atau nerakalah hadiahnya; kemudian kalo sesuatu itu hukumnya sunnah (mandub), maka jauh lebih baik kita laksanakan, karena akan lebih membawa kita kepada keridloan Allah dan surga-Nya tentu saja; Lalu kalo suatu perbuatan tadi berhukum makruh, maka jauh lebih baik kita tinggalkan; dan yang terakhir kalo suatu perbuatan itu adalah mubah, maka itu artinya kita boleh milih, mau kita lakukan atau kita tinggalkan, terserah kita karena sama-sama dibolehkan. Sehingga dari penjelasan di atas kita bisa lihat, bahwa kedewasaan yang diinginkan dalam Islam adalah dewasa dalam arti dia tampil sebagai sosok yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Pola pikir yang Islami bisa kita dapatkan kalau dalam setiap melakukan proses berfikir kita senantiasa menyandarkan proses tadi kepada bagaimana Islam memandang hal itu. Kita dikatakan memiliki pola pikir Islami kalo kita selalu menjadikan bagaimana Islam memandang hal itu sebagai titik tolak pandangan kita. Sedangkan pola sikap Islami bisa kita miliki kalo setiap kita hendak melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau naluri kita, selalu kita sandarkan/dikaitkan ama aqidah kita yaitu Islam. Misalnya pada saat kita mau berpakaian; maka kita disebut sebagai seseorang yang memiliki pola sikap yang Islami kalo kemudian kita memilih pakaian sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, sebagai seorang muslimah tentu kita wajib untuk memakai kerudung dan jilbab jika keluar rumah. Nah, ketika seseorang itu sudah punya dua unsur kepribadian inilah (pola pikir dan pola sikap Islami). Dikatakan seseorang tadi sebagai seseorang yang memiliki kepribadian Islami. Ingat dua unsur tadi harus terpenuhi! dan kalo kita liat, ternyata aqidah Islam-lah yang menjadi landasan/dasar pembentukan dua unsur kepribadian Islam tadi. Sehingga seseorang yang telah mengaku beraqidah Islam yang tentunya melalui suatu proses pemahaman.bukan sekedar kebetulan atau ikut-ikutan selanjutnya ia harus memfungsikan aqidahnya dalam pembentukan pola pikir dan pola sikapnya sehingga dia pun kemudian memiliki kepribadian Islam. Seseorang yang bener-bener memiliki kepribadian Islam akan tampil sebagai sesosok yang punya sifat-sifat khas dan unik, lebih lanjut ia bakal muncul dengan sifat yang menonjol, jadi titik perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya.Allah SWT menggambarkan sosok-sosok pribadi muslim itu dalam berbagai ayat Al-Qur'an, a.l: "Muhammad itu rasul Allah, orang-orang yang bersama dengan dia (sahabat) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berbelas kasih sesama mereka, engkau melihat mereka ruku' dan sujud mengharapkan karunia Allah dan keridlaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud."(TQS Al Fath:29) "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memilihara sembayangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (ya'ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal didalamnya"(TQS Al Mu'minuun:1-11) Tentu saja memiliki kepribadian Islam itu bukanlah suatu kebetulan atau bakat yang sudah kita bawa sejak lahir, namun kembali lagi bahwa uintuk meraih semua itu haruslah ada usaha dan kesabaran dari diri kita sendiri untuk mewujudkannya. Ingatlah firman Allah SWT.: "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi atau kaum hingga mereka berusaha merubahnya sendiri." (TQS Al Ar'rad:11). Usaha tersebut adalah dengan cara banyak-banyaklah menambah perbendaharaan khazanah keilmuan Islam (tsaqofah Islam)untuk membentuk pola pikir plus menguatkannya. Bisa melalui pengajian-pengajian, diskusi, seminar, atau ceramah-ceramah yang membahas masalah Islam. Jadi datang dan galilah ilmu sebanyak-banyaknya! Di mana ada pembahasan tsaqofah Islam disitu ada kita. Sedangkan untuk membentuk pola sikap Islam plus menguatkanya ya kita harus banyak-banyak melatih diri melakukan ketaatan menjalankan ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Melaksanakan yang wajib dan memperbanyak yang sunnah. Jadi kita-kita melakukannya dengan sabar dan tekun insya Allah kita-kita bisa punya kepribadian Islam dan makin meningkat terus kualitasnya.

IKUTI KATA HATIMU...

Salah satu nasihat yang sering diucapkan banyak orang ketika kita menghadapi masalah adalah, “follow yourheart,” ikuti kata hatimu. Banyak orang yang percaya kalau suara hati itu selalu benar, jujur, tidak pernah ngebohong. Maka selalu dengarkan kata hatimu. Tapi apa bener demikian? Sebetulnya tidak ada satupun manusia yang bisa menentukan satu perbuatan itu benar atau salah. Seperti kalau kita ditanya; bohong itu baik atau buruk sih? Pacaran itu sehat atau nggak? Marah itu pantas atau tidak? Atau saat teman-teman kita menawarkan segelas minuman keras atau bahkan narkoba, pilihan apa yang harus kita lakukan ; mengikuti kata hati yang mengajak pada solidaritas pergaulan atau menolak dengan resiko dicap ‘anak mami’ atau ‘sok alim’. Seringkali hati kita bimbang dan kebingungan menghadapi berbagai pilihan. Tentu saja, karena hati kita bukanlah ‘wasit’ yang selalu bisa memimpin sebuah pertandingan dengan fair atau adil. Terkadang hati juga bisa terpeleset pada pilihan yang salah. Buat kita, lazimnya orang Indonesia, membuka aurat – apalagi telanjang – di depan umum itu memalukan. Tapi sebagian orang di dunia suka bertelanjang di muka umum; di pantai, di pemandian umum bersama orang lain, atau para model yang difoto untuk sampul majalah, dsb. Bagi mereka hal seperti itu sah saja. Hati mereka tidak merasa bersalah ataupun malu karena menganggap hal itu adalah benar. Kalau kamu suka membaca budaya berbagai bangsa di dunia kita mungkin bisa terkejut. Ada suku yang tanda ucapan salam adalah dengan saling meludah, ada juga yang terbiasa merayakan hari-hari kegembiraan mereka dengan minum minuman keras, sementara ada suku lain yang kanibal, memangsa sesama manusia. Bagi mereka, perbuatan-perbuatan itu adalah sebuah kebenaran. Maka, seandainya kita diminta menentukan sendiri perbuatan baik dan buruk untuk diri kita, dijamin kita akan bingung sendiri. Salah-salah manusia bisa hidup seperti hewan yang hidup tanpa aturan. Akhirnya, manusia sendiri yang akan sengsara. Itulah sebabnya agama kita, Islam, datang dengan sejumlah aturan untuk kebaikan manusia. Nggak cuma menyuruh manusia menyembah Allah, tapi juga hidup sesuai dengan aturanNya. Kenapa kita harus hidup dengan aturan Allah? Karena Allah yang menciptakan kita, pastinya Ia juga yang Mahatahu yang baik dan buruk bagi kita. Misalnya – ini cuma permisalan --, kalau kamu sakit, pastinya kamu datang ke dokter untuk berobat dan tidak akan pergi ke bengkel las. Dan ketika dokter yang memeriksamu memberi saran untuk banyak istirahat, menghindari makan makanan tertentu dan banyak minum vitamin, kamu akan patuh. Kenapa? Karena kamu percaya dokter lebih tahu dari siapapun mengenai masalah kesehatan – apalagi dibandingkan tukang las --. Karena Allah yang menciptakan kita, sudah pada tempatnya kita berjalan mengikuti apa yang diminta Allah. Dan nggak mungkin juga Allah meminta kita melakukan atau melarang sesuatu bila tidak ada kebaikannya buat kita. Ketika Allah meminta kita untuk menjauhi minuman keras, itu pasti ada kebaikan yang Allah inginkan buat kita. Bisa kita buktikan sekarang betapa miras itu merusak kesehatan dan juga menyebabkan orang berbuat kejahatan. Atau drugs itu selain merusak badan, juga mendorong orang berbuat kriminal dan menghancurkan masa depan seseorang. Percaya saja, kalau kita coba-coba melanggar aturan Allah maka manusia sendiri yang bakal sengsara. FirmanNya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(Ar Rum [30]:41). Sekarang orang panik dengan penyebaran penyakit AIDS. Ini penyakit yang serius, yang tiap tiga menit satu orang terinfeksi. Sepertiga dari pengidap virus HIV di dunia ini adalah remaja. Sebabnya adalah merebaknya gaya hidup bebas. Banyak di antara mereka ketika melakukan perbuatan tercela itu berprinsip ‘ikuti kata hatimu’. Tawuran di kalangan remaja juga tidak kunjung menurun, sebabnya mereka berbuat tanpa berpikir masak-masak, mereka hanya mengikuti ‘apa kata hati’. ‘Apa kata hati’ tidak menjamin kebenaran. Satu-satunya yang benar adalah apa yang ditentukan oleh Allah. Walaupun hati kita tidak suka, misalkan shalat yang terkadang kita malas mengerjakannya, belum mau berjilbab karena mungkin malu dan belum pede, masih sulit meninggalkan pacaran, tetap saja itu semua adalah kebenaran. Hati kitalah yang masih dikuasai oleh hawa nafsu, belum mau menerima kebenaran yang hakiki. Pilihan yang benar itu tidak selalu pilihan yang mungkin menyenangkan kita. Mungkin harus kita hadapi dengan berbagai macam kesukaran. Dijauhi teman gara-gara menolak ajakan mereka ‘minum-minum’, disuruh shalat atau diminta belajar serius oleh orang tua, mengerjakan PR padahal teman-teman kita sedang jalan-jalan di mall, tidak berpacaran karena dilarang oleh orang tua, adalah sebagian kebaikan yang mungkin suka kita tempatkan sebagai ‘musuh’. Lalu apa yang harus kita kerjakan ketika menghadapi masalah? Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, ambil waktu untuk berpikir dengan sehat; pikirkan perbuatan mana yang tidak membuat kita menjadi berdosa. Tundukkan hati kita pada yang pilihan yang Allah mau. Dengan mengikuti apa yang Allah ridloi pilihan kita pasti benar, di dunia juga di akhirat. Kata Rasulullah saw. “Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa,” (hadits hasan shahih tercantum dalam Kitab Hadits Arba'in An Nawawi).š

MENCARI JALAN KE SURGA.....

Ah, rasa-rasanya kamu semua bakalan tunjuk jari nih kalo ditanya, “Siapa yang pengen masuk surga?”. Betul? Iya deh, ngaku aja, nggak usah malu-malu (apalagi sampe malu-maluin!). Banyak orang ingin masuk surga kok. Jangankan kaum muslimin, orang kafir dan orang musyrik pun sangat antusias ingin masuk surga (tentu surganya sesuai definisi dan pemahaman mereka, atau jangan-jangan bukan surga yang didapat, tapi neraka buat mereka?). Kalo gitu, surga untuk semua dong? Ah, jangan nebak-nebak en berprasangka gitu. Begini deh, meski banyak orang ingin masuk surga, dan dengan jalan yang berbeda-beda, tapi hakikatnya surga cuma untuk orang-orang yang beriman. Buat yang nggak beriman mah harap ‘dipersori' aja, surga bukan jatah mereka tuh. Sobat muda muslim, ibarat orang yang akan bepergian, maka tentu saja kudu punya bekal dan peta atau penunjuk jalan yang memadai. Kalo nggak? Bisa kehabisan bekal dan mungkin tersesat jalan. Rugi dan malah membahayakan banget kan? Itu sebabnya, seperti halnya orang yang sedang menuju suatu tempat, maka panduan hidup kita di dunia ini juga kudu jelas. Supaya apa? Supaya terhindar dari salah jalan, dan tentunya hidup jadi lebih efektif karena sudah tahu peran kita di dunia ini. Nggak nyari-nyari posisi lagi atau nggak asal berbuat. Inilah pentingnya panduan hidup. Kalo nggak? Jangan salahkan orang lain kalo diri tersesat gara-gara nggak punya panduan dan nggak tahu jalan. Kalo diri sendiri kebetulan nggak tahu jalan, maka bergandengan tangan dengan orang lain yang tahu jalan akan membantu kita mencapai tempat tujuan dengan aman. Tapi kalo ada orang yang buta jalan, tapi sok tahu itu namanya nekatz guys! Coba deh kalo ada orang yang, maaf, buta matanya, tapi begitu dituntun sama orang yang sehat matanya malah menolak, apalagi sampe ngomong, “Gua juga bisa, tahu!” Eh, benar saja, ternyata bisa kejebur tuh! (wong mata nggak bisa ngelihat, tapi nekatz jalan sendiri tanpa panduan). Sebagai seorang muslim, sebenarnya kita udah punya panduan hidup yang oke punya. Kita punya “buku harian” yang “ajaib” banget, yakni al-Quran. Kalo kita baca setiap hari, dikaji setiap ada kesempatan, dan kita renungkan setiap kali selesai mengkajinya, ditambah dengan pengamalan yang mantep, bukan tak mungkin kita bisa menatap masa depan dengan mata yang terus berbinar, hati yang tenang, dan pikiran yang waras. Nggak bakalan was-was lagi, dan siap menghadapi segala risiko. Inilah pentingnya hidup, dan enaknya punya panduan dalam menjalaninya. Sobat muda muslim, kalo dalam karya fiksi kita mungkin pernah baca “Banyak Jalan Menuju Roma”, maka, kalo boleh nyontek dan kita plesetkan, sebenarnya banyak juga jalan menuju surga. Maksudnya banyak hal yang bisa mengantarkan kita ke surga. Asal semua amalan tersebut dilandaskan kepada ajaran Islam dan ikhlas melakukannya. Mudah kan? Nah, tunggu apalagi, kita pancangkan niat yang mantap dan hanya karena Allah Swt. kita berbuat. Bukan karena yang lain. Terus, sesuaikan juga dengan patokan ajaran Islam. Jangan lupa, tetap semangat lho. So, nggak usah ragu en nggak usah bimbang, apalagi takut. Mulai sekarang, kita bisa mulai untuk mencari jalan ke surga. Siap semua kan? Ayo jalan! (tapi lihat kanan kiri, entar nabrak lho! Hehehe…) Jalan ke surga, mudah dan murah Sobat muda muslim, ini bukan kampanye soal murah dan murahan. Nggak. Ngapain juga kita cuap-cuap kalo tanpa makna. Tul nggak? Insya Allah, ini sebagai gambaran bahwa jalan menuju surga itu nggak sulit, nggak pula mahal. Tapi sebaliknya mudah dan murah. Emang sih, kalo ukuran kita di dunia biasanya untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang “wah”, kudu dibeli dengan harta yang banyak dan tentu saja agak sulit meraihnya. Kalo pengen naik pesawat yang pelayanannya oke punya, kita kudu keluar duit banyak dan tentunya membuat kita pusing, ribet dan ya boleh dibilang sulit. Tapi sodara-sodara, surga insya Allah mudah dan murah untuk didapatkan. Fasilitas “wah”, tapi harga murah dan caranya mudah. Kenapa mudah dan murah? Kalo kamu ke mesjid, terus ngasih sedekah dengan memasukkan uang ke keropak amal yang disediakan, dan kamu juga ikhlas melakukannya, insya Allah berpahala, meski harta yang disisihkan jauh lebih murah dari harga semangkuk bakso. Oke? Selain bersedekah dengan harta, kamu juga bisa bersedekah dengan senyuman. Wah, asyik juga neh bisa TP alias tebar pesona! Husss.. jangan sembarangan, nggak boleh nakal gitu ah! (luruskan niat ya). Nah, ngasih senyuman yang tulus ikhlas kepada teman-teman kita, insya Allah udah termasuk ibadah. Tentu saja, karena membuat hati dan pikiran saudara kita seneng kan bagian dari ibadah. Betul? Ehm, itu juga mudah dan murah kan? Oya, selain bersedekah harta dan sikap yang enak dipandang mata, ternyata jalan menuju surga bisa juga lewat baca al-Quran. Ih, asyik banget ya? Inilah bedanya membaca kalamullah dengan bacaan biasa. Kalo baca al-Quran dinilai pahala lho, bahkan setiap huruf yang dibaca pun mengandung bobot nilai yang besar. Beda dengan bacaan biasa, misalnya baca komik atau baca koran. Ada sih manfaatnya baca koran, yakni kita jadi tahu informasi, tapi nggak dapat pahala dari bacaan tersebut. Tuh, emang mudah dan murah jalan menuju surga itu kan? Sobat muda muslim, baca al-Quran, lalu mengkaji dan memahaminya, (termasuk dalam hal ini belajar tentang Islam yang lainnya adalah beberapa jalan yang bisa mendapatkan pahala. Kalo udah bicara pahala, maka surga memang tempat mereka yang banyak pahalanya (sebagai ganjaran dari amal baiknya tentu). Guys , sebagai tambahan dan penekanan, agar amal baik kita alias amal sholeh kita, bermakna dan bermanfaat, maka kudu dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan. Karena amal sholeh (kebaikan) kalo nggak dilandasi dengan keimanan ketika berbuatnya maka akan dinilai sia-sia (ih, bener-bener kudu ati-ati deh!). Jadi, memang mudah untuk bisa mendapatkan surga itu, cukup beriman dan beramal sholeh. Mudah dan murah kan? Beriman nggak perlu bayar dengan harta, karena memang keimanan nggak bisa dibeli dengan uang. Tapi keimanan bisa diraih dengan proses berpikir dan dengan niat yang kuat untuk mendapatkannya. Iman nggak bisa diperjualbelikan, Bro ! Allah Swt,. berfirman: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 25) Tuh, jadi gembiralah wahai orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (amal kebaikan). Soalnya, jaminannya surga euy! Nah, ladang beramal itu banyak banget sobat. Ngaji, itu salah satu ladang beramal kita. Meski ngaji itu mudah dan murah, tapi anehnya nggak sedikit yang ogah dateng ke pengajian. Jangankan nggak diundang untuk dateng ke pengajian, kita udah bela-belain ngajak dan ngasih surat undangan untuk hadir di pengajian pun, susahnya minta maaf tuh. Tapi, ketika di RW sebelah ada dangdutan digelar, eh, nggak diundang juga udah pada semangat datang (paling dulu dateng en paling depan nontonnya!). Tuing! Ati-ati sobat! Sobat muda muslim, nggak usah takut dan nggak usah ragu dengan kebenaran Islam ini. Karena apa? Karena Allah pun sudah menjanjikan surga buat orang-orang yang beriman dan berpegang teguh dengan ajaran Islam ini. Nggak bakal goyah walau godaan datang silih berganti dan beragam. Ia tetep istiqomah dengan kebenaran Islam dan nggak luluh oleh gemerlap yang ditawarkan ajaran lain. Allah Swt. berfirman: “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya.” (QS an-Nisaa' [4]: 175) Subhanallah , sungguh pahala yang besar dan nikmat yang tiada taranya buat kita. Sayangnya, banyak juga di antara kaum muslimin yang nggak bisa dengan kuat berpegang teguh pada ajaran Islam. Mereka ada yang lebih memilih ke jalan yang sesat ketimbang petunjuk yang benar. Eh, kok bisa sih? Begini ceritanya. Jabatan, kekayaan, dan status sosial, bisa menjadi tujuan seseorang dan untuk meraihnya, kadang rela mengorbankan idealisme yang selama ini diyakini dan diembannya. Bukan tak mungkin lho, demi meraih sebuah jabatan, atau menggenggam kekayaan, dan menyandang status sosial, orang bisa dengan mudah menggadaikan idealismenya, menjual akidahnya, dan menelantarkan keimanannya. Duh, ati-ati deh! Tengok deh dalam kehidupan sekarang ini, ternyata banyak teman kita yang lebih memilih larut dalam gemerlap budaya pop yang datangnya dari Barat ketimbang bermesraan dan cinta ama budaya Islam. Atas nama modernisasi, misalnya, remaja muslim nggak sedikit yang berlomba tampil ala Barat; dandanan yang asal nyangkut di badan dan kagak mikir lagi apakah itu menutup aurat apa nggak, makanan yang nggak dilihat lagi apakah itu halal atau haram, bahkan dalam soal hiburan pun banyak teman kita yang menilainya dengan ukuran yang dibuat sendiri; yakni hiburan tersebut menyenangkan atau tidak diukur dari hawa nafsunya. Mereka nggak merhatiin apakah hiburan itu nyerempet-nyerempet dosa atau berbau maksiat, asal senang, “hajar aja bleh”. Gawat euy! Ke surga? Bareng Islam dong! Sobat muda, biarlah orang kafir dan orang musyrik asyik berkhayal dan melamun tentang surga. Karena sejatinya mereka nggak punya peta yang benar untuk menuju surga. Cuma Islam yang punya peta yang benar. Nggak percaya? Allah saja sudah menjanjikan bahwa, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS ali Imran [3]: 19) . Berarti, ini sudah tertutup kemungkinan buat yang lain (kaum kafir dan kalangan musyrik) untuk bisa menuju surga. Kalo kata Sheila on 7 mah , “berhenti berharap” deh! Hmm.. kasihan banget ya? Duh, kita bukan ngeledekin atau menghina, karena memang faktnya demikian. Kita nggak bisa berbohong. Jujur saja, bahwa memang cuma Islam yang punya peta jalan menuju surga lengkap dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Nah, masalahnya, kita sebagai umatnya justru belum sepenuhnya “ngeh” tentang persoalan ini. Udah diberi petunjuk, udah menyandang gelar muslim pula, eh masih aja hobi ngelakuin maksiat. Tulalit banget kan? Ngakunya muslim, tapi seks bebas jalan terus, pake narkoba doyan juga. Duh, gimana atuh bisa dapetin surga? Jangan sampe hidayah yang diberikan Allah kepada kita jadi sia-sia karena kita nggak pandai menjaganya. Karena kita lebih tergoda kehidupan lain yang sebenarnya cuma menawarkan kenikmatan sesaat, udah gitu sesat pula. Amit-amit deh! Sobat, itu sebabnya, yuk kita bareng-bareng mengamalkan ajaran Islam ini. Kuatkan keimanan kita, dampingi dengan ilmu yang benar, dan hiasi dengan amal baik. Trio “iman, ilmu, dan amal” ini kudu hadir dalam kehidupan beragama kita. Insya Allah ini sebagai bekal mencari jalan ke surga. So , semoga nggak ada lagi teman remaja muslim yang nggak punya peta jalan menuju surga. Biar mantep nih, yuk mulai ngaji aja deh, selain memenuhi perintah mencari ilmu, juga karena ngaji bisa bikin kita jadi berilmu, kita pun bisa tahu soal halal-haram. Semoga kita menjadi generasi yang beriman, bertakwa, dan ngerti betul apa yang harus kita lakukan untuk mencari jalan ke surga. Semoga pula kita bisa sama-sama “reuni” di surga, nggak ada salahnya jika kita bilang, “Kutunggu dirimu di surga”. Insya Allah. Semangat ya!

Takkan Lari Gunung dikejar

Salah satu alasan yang dikatakan remaja kepada saya setiap saya bertanya pada mereka ‘kenapa berpacaran?’, adalah karena takut orang yang mereka taksir itu direbut orang. Karena itu tidak sedikit remaja yang akhirnya berpacaran meski mereka sendiri nggak tahu apakah pacaran itu sekedar ‘cinta monyet’ atau memang serius untuk menikah. Walau dalam lubuk hati yang paling dalam saya percaya untuk yang terakhir itu nggak mungkin. Meeka kan masih sekolah, lagipula mereka masih lebih seneng main sendiri ketimbang ngurus anak. Karenanya sangat perlu dan mendesak untuk berbicara pada kamu, teman remaja, soal cara mencintai orang lain dan juga keyakinan tentang jodoh. Sebab, pacaran itu adalah perilaku yang muncul dari pemahaman, selama pemahaman itu nggak diluruskan, sepanjang itu pula budaya pacaran tidak hilang. Hal pertama yang meski diyakini dengan seyakin-yakinnya adalah kenyataan jodoh itu adalah rezeki. Dan, setiap muslim juga harus beriman bahwa rezeki itu adalah pemberian Allah. Dengan begitu kita juga mesti percaya kalau Allah sudah menetapkan besarnya rizki setiap manusia – bahkan hewan – di atas muka bumi ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang tidak akan mati sampai dipenuhi rizkinya”(HR. Ibnu Majah). Yuk, kita lihat. Berapa banyak orang yang pacaran bertahun-tahun ternyata berakhir dengan satu kata yang nyelekit : putus! Seorang kawan saya tinggal selangkah lagi menuju pernikahan – karena kekasihnya sudah dilamar dan calon mertuanya sudah ACC – ternyata batal, karena sang pujaan hati memilih ‘jalan’ bareng pria lain (duh tega banget). Ada juga kawan saya yang kenalan, eh dua minggu kemudian tahu-tahu married. Jodoh itu misterius, sama misteriusnya seperti kekayaan, kesehatan, penyakit dan ajal. Yang harus kita lakukan adalah yakin bahwa Allah pasti sudah memberikan rizkinya pada manusia. Masalah kapan dapatnya, dengan siapa, itu adalah perkara yang gaib. Maka, saya heran dan bingung melihat banyak remaja yang begitu ‘serius’ pacaran, malah sampai melakukan perbuatan yang jelas-jelas nyerempet pada zina – dan nggak sedikit yang berzina – dengan pacarnya. Padahal pacarnya nggak pernah memberikan komitmen apapun untuk naik ke pelaminan. Kalaupun iya mau ngajak married, buat apa juga nyerempet perbuatan haram. Ketika saya disekolah, ada teman-teman saya yang berbuat seperti itu. Kemana-mana berdua, termasuk berani pacaran di dalam kamar cowoknya, main pangku-pangkuan yang bikin kita jadi malu sendiri kalau melihatnya. Dan ketika kita semua lulus pacaran itupun bubaran, masing-masing menikah dengan gebetannya yang lain. Jadi jangan takut untuk tidak mendapat jodoh, untuk kemudian kita memilih pacaran. Karena itu jawaban yang sama sekali jauh dari kebaikan. Kan dalam pacaran ada ‘segudang’ aktivitas yang masya Allah bisa bikin Allah marah pada kita. Dalam pacaran ada genggaman tangan (dengan nafsu lagi), ada saling pandang (lagi-lagi dengan nafsu), berkhalwat, belum lagi kalau mereka yang berani ngelakuin pelukan atau istilah saya KNPI – Kissing, Necking, Petting, Intercourse --, yang kayaknya nggak perlu deh saya terjemahin utuh selain dengan dua kata; mendekati zina! Percayalah Allah itu Tuhan yang Mahaadil bagi manusia. Belum tentu cowok atau cewek yang kita pengenin saat ini baik buat kita. Nggak sedikit orang yang baru ‘ngeh’ kalau orang yang mereka cintai beberapa tahun yang lalu ternyata tidak baik buat mereka. Ya, cuma Allah yang tahu itu semua. Maka harap bersabar dan banyak berdoa pada Allah supaya kita dikasih pasangan hidup yang baik segalanya; dunia dan akhirat. Nggak usah deh kita ambil jalan pintas dengan cara pacaran. Juga, jangan lupa memperbanyak amal shaleh. Moga-moga dengan amal saleh itu Allah memudahkan kita untuk mendapatkan jodoh yang saleh/salehah. Amin! “…Perempuan-perempuan yang baik untuk lelaki-lelaki yang baik dan lelaki-lelaki yang baik untuk perempuan-perempuaan yang baik…” [ QS: An Nur : 26 ]

MAKNA SEBUAH CINTA

1. Jangan tertarik kepada seseorang kerana parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya kerana kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, kerana hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu. 2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu. 3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi. Jadilah seperti yang kamu inginkan, kerana kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan. 4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cubaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan wang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah. 5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acap kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita. 6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya. 7. Sungguh benar bahawa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya. 8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hari orang lain pula. 9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi. 10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia. 11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya. 12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas kurnia itu. 13. Hanya diperlukan waktu seminit untuk mentafsir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang. 14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencuba. Kerana hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka. 15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, ghairah, romantika dan masih tetap peduli padanya. 16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat bererti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahawa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya. 17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan titisan air mata. 18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya. 19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya. 20. Masa depan yang cerah selalu bergantung pada masa lalu yang dilupakan. Kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu. 21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mahu mencuba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya. 22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah kerana cinta tumbuh di hatimu. 23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian, janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati. 24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.

SEORANG GADIS ITU...

Seorang gadis itu... Yang lembut fitrah tercipta, halus kulit, manis tuturnya, lentur hati ... telus wajahnya, setelus rasa membisik di jiwa, di matanya cahaya, dalamnya ada air, sehangat cinta, sejernih suka, sedalam duka, ceritera hidupnya ... Seorang gadis itu ... hatinya penuh manja, penuh cinta, sayang semuanya, cinta untuk diberi ... cinta untuk dirasa ... namun manjanya bukan untuk semua, bukan lemah, atau kelemahan dunia ... ia bisa kuat, bisa jadi tabah, bisa ampuh menyokong, pahlawan-pahlawan dunia ... begitu unik tercipta, lembutnya bukan lemah, tabahnya tak perlu pada jasad yang gagah ... Seorang gadis itu ... teman yang setia, buat Adam dialah Hawa, tetap di sini ... dari indahnya jannah, hatta ke medan dunia, hingga kembali mengecap ni'matNya ... Seorang gadis itu ... bisa seteguh Khadijah, yang suci hatinya, tabah & tenang sikapnya, teman lah-Rasul, pengubat duka & laranya ... bijaksana ia, menyimpan ílmu, si teman bicara, dialah Áishah, penyeri taman Rasulullah, dialah Hafsah, penyimpan mashaf pertama kalamullah ... Seorang gadis itu ... bisa setabah Maryam, meski dicaci meski dikeji, itu hanya cerca manusia, namun sucinya ALLah memuji ... seperti Fatimah kudusnya, meniti hidup seadanya, puteri Rasulullah ... kesayangan ayahanda, suaminya si panglima agama, di belakangnya dialah pelita, cahya penerang segenap rumahnya, ummi tersayang cucunda Baginda ... bisa dia segagah Nailah, dengan dua tangan tegar melindung khalifah, meski akhirnya bermandi darah, meski akhirnya khalifah rebah, syaheed menyahut panggilan Allah. Seorang gadis itu ... perlu ada yang membela, agar ia terdidik jiwa, agar ia terpelihara ... dengan kenal Rabbnya, dengan cinta Rasulnya ... dengan yakin Deennya, dengan teguh áqidahnya, dengan utuh cinta yang terutama, Allah jua RasulNya, dalam ketaatan penuh setia . pemelihara maruah dirinya, agama, keluarga & ummahnya ... Seorang gadis itu ... melenturnya perlu kasih sayang, membentuknya perlu kebijaksanaan, kesabaran dan kemaafan, keyakinan & penghargaan, tanpa jemu & tanpa bosan, memimpin tangan, menunjuk jalan ... Seorang gadis itu ... yang hidup di alaf ini, gadis akhir zaman, era hidup perlu berdikari ... dirinya terancam dek fitnah, sucinya perlu tabah, cintanya tak boleh berubah, tak bisa terpadam dek helah, dek keliru fikir jiwanya, kerna dihambur ucapkata nista, hanya kerana dunia memperdaya ... kerna seorang gadis itu, yang hidup di zaman ini ... perlu teguh kakinya, mantap iman mengunci jiwanya, dari lemah & kalah, dalam pertarungan yang lama ... dari rebah & salah, dalam perjalanan mengenali Tuhannya, dalam perjuangan menggapai cinta, ni'mat hakiki seorang hamba, dari Tuhan yang menciptakan, dari Tuhan yang mengurniakan, seorang gadis itu ... anugerah istimewa kepada dunia! Seorang gadis itu ... tinggallah di dunia, sebagai ábidah, dahípayah & mujahidah, pejuang ummah ... anak ummi & ayah, muslimah yang solehah ... kelak jadi ibu, membentuk anak-anak ummah, rumahnya taman ilmu, taman budi & ma'rifatullah ... Seorang gadis itu ... moga akan pulang, dalam cinta & dalam sayang, redha dalam keredhaan, Tuhan yang menentukan ... seorang gadis itu dalam kebahagiaan! Moga lah-Rahman melindungi, merahmati dan merestui, perjalanan seorang gadis itu ... menuju cintaNYA yang ABADI